Setiap Asa Bertabur Nikmat

Setiap Asa Bertabur Nikmat

Oleh  : Harmen Batubara

Yang mendorong saya untuk menuliskan buku ini adalah melihat banyaknya manusia yang tidak mampu melepaskan diri dari hidup miskin. Mereka seolah tidak berdaya menghadapi kemiskinan. Menghadapi ketidak mampuan dan adanya rasa apatisme pada mereka yang melakoni kehidupan serba terbatas, serba miskin. Sebenarnya miskin itu sendiri keadaan yang bisa diubah, yang bisa dihentikan asal kita mau melakukannya. Niatnya memang begitu, ingin mereka bisa keluar dari kemiskinan itu sendiri. Setiap Asa Bertabur Nikmat.  Secara umum, definisi kemiskinan adalah suatu kondisi ketika seseorang tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan dasarnya seperti kebutuhan pangan, sandang, tempat tinggal, pendidikan dan kesehatan yang layak.

Setiap Asa Bertabur Nikmat
setiap asa bertabur nikmat

Jadi kalau kondisi kita lagi dalam keadaan miskin, susah maka yang perlu diingat jangan putus asa dahulu. Ketahuliah bahwa Dunia ini sudah lama ada dan jutaan ragam kehidupan sudah pernah ada dan sudah dirasakan oleh umat umat sebelumnya. Jadi menjadi miskin itu bukanlah hanya milikmu saja miskin itu universal ada dimana-mana. Baik di Negara Kaya dan tentu di Negara miskin. Tetapi semiskin apapun yang kita alami. Kita atau kamu juga pasti tidak asing mendengar pepatah “hidup itu ibarat roda yang berputar”. Adakalanya berada di atas dalam artian hidupmu berjalan sangat baik sesuai dengan yang diharapkan dan adakalanya pula berada di bawah yang membuatmu merasakan pahitnya kehidupan. Ketika kau rasa hidupmu sedang menurun janganlah hal itu membuatmu merasa sedih, jangan biarkan pikiranmu terpenuhi oleh pemikiran pesimis dan suram. Berikut saya perlihatkan bagaimana seorang anak muda dari keluarga miskin dan sangat bersahaja tetapi ternyata dalam perjuangan hidupnya mampu keluar dari Jebakan kemiskinan itu sendiri dan menjadi kaya Raya dan jadi Menteri Negara di saat uasianya masih tergolong muda. Dialah Bahlil Lahadalia.

Baca Juga  :  Jadi Penulis Profesional ? Tulis Saja Dulu

Kini siapa yang tidak kenal Bahlil Lahadalia, SE., terlebih lagi setelah ia dilantik menjadi Menteri Investasi/Kepala BKPM oleh Presiden Jokowi pada 28 April 2021. Pelantikan Bahlil menyusul perubahan nomenklatur tiga kementerian yang telah disetujui DPR pada 9 April lalu. Sebelumnya, Bahlil menjabat Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal atau BKPM. Menteri dengan dengan harta 300 Milyar. Sungguh sebuah pencapaian yang tidak mudah. Kalau tahu jalan hidupnya maka anda akan lebih kagum lagi pada sosok pemuda ini. Bahlil Lahadilia lahir di Banda, Maluku pada 7 Agustus 1976. Ia anak kedua dari delapan bersaudara pasangan Lahadalia dan Nurdjani. Leluhur ayah Lahadalia berasal dari Sulawesi Tenggara. Mereka merantau ke Kepulauan Banda, Maluku Tengah. Sedangkan ibunya, Nurdjani berasal dari Banda Neira, salah satu pulau di Kepulauan Banda, Maluku Tengah, Maluku.

Bahlil kecil menghabiskan masa sekolah dasar hingga pendidikan tinggi di wilayah timur. Ia menempuh sekolah dasar di SD Negeri 1 Seram Timur, kemudian melanjutkan ke jenjang sekolah pertama di SMP Negeri 1 juga  di Seram Timur, Maluku. Kemudian keluarganya pindah ke Fak-Fak, Papua Barat. Bahlil kemudian  melanjutkan pendidikan di SMEA YAPIS Fakfak, Papua Barat.

Pemuda yang  memasuki masa remaja di Fakfak Papua ini justeru datang dari keluarga biasa  yang sangat bersahaja. Bisa dibayangkan. Bapaknya adalah seorang kuli bangunan dan ibunya juga ikut membantu keluarga dengan bekerja sebagai pembuat kue-kue jajanan sekaligus sebagai Tukang Cuci pakaian bagi beberapa tetangga di sekitar mereka.

Kalau dia ditanya awal mula jadi pengusaha dia malah mengatakan, sejak dari kecil saat SD dia sudah jadi “pengusaha” tetapi  sebagai penjaja kua, jualan kue yang dibuatkan mamahnya.  Itu terjadi bukan karena ke inginannya, tapi karena hal itu harus dilakukan  dan terpaksa dilakukan. Karena memang saat itu keluarganya,  nyaris tidak punya apa-apa, mamahnya terpaksa jadi tukang cuci atau laundry  di rumah tetangga. Ya sebagai spesialis cuci pakaian. Hal itu dilakukan untuk bisa membantu bapaknya yang bekerja sebagai  buruh atau kuli bangunan dengan gaji saat itu Rp 7.500/hari setara dengan Rp 100.000. saat ini.

Jadi keluarga dengan 8 orang bersaudara ini, awalnya 9, salah satu meninggal dunia, Bahlil adalah anak kedua. Jadi kondisinya memang sejak SD itu kalau  mau sekolah, ya harus bantu cari duit atau cari duit sendiri. Jadi dia jadi penjual kue, menjajakan kue dari apa yang mamahnya  buat, itu adalah bentuk keharusan. Keadaan menuntut nya harus melakukan sesuatu dan membantu keluarga nya  agar dapat hidup dan  mempertahankan kelanjutan hidup. Kalau nggak, nggak bisa bantu mamah dan keluarga saya, jelas tidak mungkin  adik-adik nya banyak.

Dalam kondisi seperti itulah kemudian dia bisa beli buku, bisa beli sepatu, bisa beli dan bermain kelereng dengan teman-temannya. Itu berlanjut terus sampai dengan SMP. Ketika saat  SMP, karena memang kondisi keuangan orang tua yang masih susah, dia pernah jadi  kondektur angkot. Jadi jualan ikan di pasar. Saat duduk di SMP kelas 3  dia juga pernah jadi helper excavator serta tinggal di hutan pada saat musim libur sekolah. Malah ketika di SMEA, dia pernah jadi sopir angkot. Lulus SMEA Bahlil berangkat ke Jayapura dan tinggal di asrama orang Fakfak.

Bisa dibayangkan bagaimana ia bisa keluar dari Fak-Fak untuk melanjutkan pendidikan? Ini adalah tipikal masalah bagi remaja Kampung yang ingin melanjutkan pendidikan tetapi tidak punya uang dan saudara di Kota tempat pendidikan itu berada. Dari caranya hidup selama ini, sebenarnya dia sudah memeiliki ketrampilan “cara hidup” di Kotanya, yakni kota Fakfak. Dihatinya dia sudah sangat PD ( percaya diri) bahwa sebenarnya dengan “ketrampilan” dan pengalaman hidup yang telah dipunyainya selama ini dia mampu hidup di Kota mana sajapun. Masalahnya dia lagi ngggak punya biaya untuk sekedar transportasi dan biaya pendaftaran untuk Kuliah. Tapi itupun dia percaya bisa mendapatkannya, itu sudah pasti. Masalahnya belum ketemu saja.

Baca Pula  :  Cara Meraih Satu Milyar Pertama Dari Bisnis Online 

Bahlil muda memilih berangkat ke Jayapura, keluarganya memang tahu kalau ia ke Jayapura tetapi hanya sebatas sebagai perantau bukan untuk Kuliah. Kala itu sama almarhum ayahnya. Nanya, Ngapain kamu di Jayapura? Bahlil juga hanya menjawab sederhana saja. “sudalah bapa mengikuti jalan nasib saja”. Karena untuk kuliah itu membutuhkan persiapan serta sejumlah uang yang sudah jelas peruntukannya. Padahal itu belum ada dan memang tidak punya. Mereka melepasnya hanya sebagai perantau, kalau nantinya bisa kuliah ya sukur Alhamdulillah.

Bahlil muda berangkat ke Jayapura. Saat itu dia hanya berangkat dengan membawa ijazah, baju juga cuma punya tiga stel, ditambah SIM (Surat Izin Mengemudi). Dia berangkat tanpa Koper atau Tas, yang ada hanya kantong kresek. Dia naik Kapal Perintis, dari Fakfak ke Jayapura. Waktu itu lama perjalanan diperlukan waktu dua minggu baru tiba ke Jayapura, naik Perintis kan kondisinya juga sangat berbeda. Penumpang campur dengan kambing-kambing, kayu, keladi, sayur mayur dll semua campur baur.  Kapal Perintis saat itu memang demikian kondisinya. Tapi ya senang saja.

Jadi memang, waktu itu dia berangkat ke Jayapura karena melihat teman-teman seangkatan nya pergi kuliah, sebab mereka memang sudah dari jauh jauh hari mempersiapkannya. Apalagi mereka ada yang memang punya saudara di sana dan juga sudah tahu informasi terkait tempat kost dll Dalam artian, mereka memang sudah mempersiapkannya. Kalau Bahlil boro-boro bisa mempersiapkan. Kehidupannya membutuhkan perhatiannya secara total, dalam artian kerja keras dengan pendapatan hanya ala kadarnya. Seharian harus kerja dan seolah tidak terpikirkan untuk hari hari berikutnya. Nah begitu melihat teman-temannya pada berangkat Kuliah. Saat itulah dia bingung, ya  “mau kemana saya”? Tetapi melihat teman-temannya pada berangkat. Dia lalu tertantang, kalau mereka bisa dan berani kenapa saya tidak? Dengan semangat seperti itulah Bahlil muda berangkat ke Jayapura.

Di Jayapura tujuannya yak ke Asrama mahasiswa Fakfak. Ketua asrama nya dulu itu sekarang jadi Wakil Gubernur Papua Barat. Waktu itu pendaftaran mahasiswa ke Fakultas Negeri sudah tutup. Warga asrama ya yang ada di situ semua kuliah, jadi ini juga membuat saya bingung Masa tinggal di asrama tapi tidak kuliah? Waktu itu “wakil gubernur” itu bilang sama saya, ‘kau harus kuliah’, saya sudah bilang mau kuliah, tapi bagaimana nggak punya uang. Tetapi beliau tegas ‘Sudah kuliah saja, ayo kita daftar’. Bahlil ahirnya mendaftarkan diri keUniversitas Swasta. Di Akademi Keuangan dan Perbankan (Akubank) kini menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Port Numbay, Jayapura.

Kehidupan baru pun harus dimulai. Alhamdulillah di dekat asrama ada Pasar. Pasar itu posisinya agak di dalam sekitar 70-100 meteran ke pinggir jalan. Jadi setiap jam 5 subuh dia sudah bangun lengkap dengan grobak, sebagai porter belanjaan. Yakni membawakan belanjaan para pengunjung pasar hingga ke pinggir jalan ke terminal angkot. Lumayan dari satu orang biasanya bisa dapat 200-250 rupiah. Pada ham berikutnya dia juga sudah siap dengan dagangan Koran local atau Koran Jakarta yang hari kemarin. Jual Koran juga ternyata menarik, minimal bisa beli makan sarapan hingga makan siang, bahkan kalau lagi untung kisa dapat sampai beli makan malam. Bahlil muda sudah bisa melihat peluang itu, memang tidak mudah tetapi jalannya sudah ada. Bahwa jalan seperti itu berat ya..benar benar berat..tapi ada jalan keluarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *