Ketika Tugu Batas Digeser

Rp104,500.00

Beli Di BukaLapak Ketika Tugu Batas Digeser. Catatan Blog Seorang Prajurit Perbatasan. Membaca Buku ini, saya teringat takkala Tim Penegasan Batas kami di kaki Gunung Jagoi, dekat Jagoi Babang Kalimantan Barat tahun 80an. Waktu itu jalan dari Seluas baru bisa dilalui dengan jalan kaki selama satu hari. Semua kebutuhan logistic dan peralatan diangkut dengan tenaga manusia. Logistik itu tadinya diangkut lewat dua buah Truk dari Pontianak. Jumlah tenaga angkut ada 50 orang, ditambah anggota Tim sebanyak 20 orang. Kalau itu di hitung dengan biaya yang sesungguhnya; tentulah tergolong mahal-maksudnya dibandingkan dengan uang yang kita pegang kala itu.  Beli Versi E-Book DiSiNi Tetapi berkat pendekatan Teritorial, maka jadilah ia kerja sama sukarela persahabatan manunggal TNI dan Rakyat. Perjalanan dengan bawa logistik itu sendiri sungguh menggembirakan-dengan berbekal nasi bungkus dan kopi panas semua terasa ringan. Rekayasa social dengan kepemimpinan lapangan.                           Beli Lewat TOKOPEDIA

Description

Ketika Tugu Batas Digeser
Jumlah halaman-425 halaman
ISBN-978-602-336-144-6
Cetakan ke-2

Ketiga Tugu Batas Di geser adalah catatan Blog seorang prajurit perbatasan, catatan dari seorang petugas penegasan dan pemerhati perbatasan yang galau melihat negara tetangga, dapat membangun perbatasannya dengan dignity dan memberi kemakmuran bagi para warganya.Sementara di negeri sendiri perbatasan malah jadi daerah tak bertuan jadi sarang kegiatan illegal yang malah dimanfaatkan oleh oknum untuk kepentingan diri sendiri. Kalau daerah perbatasan tetangga bisa menghadirkan para pekebun dan petani dengan kenampakan perkampungan rapi dan sejahtera, di perbatasan sendiri kehidupan tetap terisolasi dan hanya jadi wilayah bagi para masyarakat peramu, para petani musiman dan petani nomaden

Membaca Buku ini, saya teringat takkala Tim Penegasan Batas kami di kaki Gunung Jagoi, dekat Jagoi Babang Kalimantan Barat tahun 80an. Waktu itu jalan dari Seluas baru bisa dilalui dengan jalan kaki selama satu hari lewat jalan setapak. Semua kebutuhan logistik dan peralatan diangkut dengan tenaga manusia. Logistik itu tadinya diangkut lewat dua buah Truk dari Pontianak. Jumlah tenaga angkut ada 50 orang, ditambah anggota Tim sebanyak 20 orang. Meski caranya sederhana, tetapi pengalaman itu menambah kekuatan hati dalam melakukan penegasan perbatasan.
Sebetulnya kalaupun Tugu Batas itu digeser, dia sebenarnya sudah punya koordinat kesepakatan jadi tetap bisa di dirikan kembali pada posisi yang sama, serta harus dilakukan oleh kesepakatan dua belah pihak. Tetapi kalau dengan bergesernya tugu batas itu lalu para oknum bisa mengambil keuntungan darinya. Ya hal seperti itu bisa terjadi dan selama ini hal seperti itulah yang terjadi. Beritanya bisa jadi ramai dan memperlihatkan betapa petugas kita diperbatasan tidak berdaya.

Buku ini ditulis sesuai penulisan Blog. Saya telah meramunya ala Tapal batas, sehingga ia patut untuk dibaca oleh para pemerhati atau pencinta wilayah perbatasan. Pertama mempublikasikan arus pemikiran utama terkait perbatasan, diangkat dari berbagai diskusi yang mengemuka di lingkungan Kemhan tempat saya bekerja; kemudian dipadukan dengan berbagai pemikiran serupa dari lingkungan Perguruan Tinggi atau para ahli yang memang sudah lama menggeluti perbatasan. Berikutnya dengan memperhatikan tulisan-tulisan yang ada pada media masa arus utama-khususnya Kompas-Suara Pembaruan-Jawa Pos-Tempo Dll. Maka jadilah buku ini.
Sering pula ditambahkan kutipan-kutipan hasil-hasil reportase wartawan mereka-dengan maksud memperlihatkan pada pembaca Blog terkait isu dan realitas perbatasan secara nyata. Hal itu lebih diperkaya lagi, setelah adanya Pusat Riset Pertahanan Perbatasan Universitas Pertahanan Indonesia, yang sekaligus ikut menjadi peneliti di dalamnya (2010-2012). Sebagai penulis telah diusahakan membuat resep agar isi Blog tersebut layak jadi bahan bacaan yang punya kelas tersendiri, tetapi tetap sederhana. Kata orang Tempo Enak dan Perlu.Ketika Tugu Batas Digeser. Catatan Blog Seorang Prajurit Perbatasan. Membaca Buku ini, saya teringat takkala Tim Penegasan Batas kami di kaki Gunung Jagoi, dekat Jagoi Babang Kalimantan Barat tahun 80an. Waktu itu jalan dari Seluas baru bisa dilalui dengan jalan kaki selama satu hari. Semua kebutuhan logistic dan peralatan diangkut dengan tenaga manusia. Logistik itu tadinya diangkut lewat dua buah Truk dari Pontianak. Jumlah tenaga angkut ada 50 orang, ditambah anggota Tim sebanyak 20 orang. Kalau itu di hitung dengan biaya yang sesungguhnya; tentulah tergolong mahal-maksudnya dibandingkan dengan uang yang kita pegang kala itu.

Rekayasa Sosial dan Kepemimpinan Lapangan

Tetapi berkat pendekatan Teritorial, maka jadilah ia kerja sama sukarela persahabatan manunggal TNI dan Rakyat. Perjalanan dengan bawa logistik itu sendiri sungguh menggembirakan-dengan berbekal nasi bungkus dan kopi panas semua terasa ringan. Rekayasa social dengan kepemimpinan lapangan. Kalau saya lihat kembali dari kaca mata sekarang sungguhlah jauh berbeda. Karena memang negara sebenarnya memberi dukungan dengan biaya sewa Heli sebanyak 5 Sorti. Dengan heli tentu kerjanya mudah, dan paling butuh waktu dua jam. Pengalaman mengorganisir pergerakan logistik itu sendiri sungguh memberikan pengalaman professi dan menyenangkan.
Dalam penulisan Blog ini saya telah meramunya ala Tapal batas, sehingga ia patut untuk dibaca oleh para pemerhati atau pencinta wilayah perbatasan. Pertama mempublikasikan arus pemikiran utama terkait perbatasan, diangkat dari berbagai diskusi yang mengemuka di lingkungan Kemhan tempat saya bekerja; kemudian dipadukan dengan berbagai pemikiran serupa dari lingkungan Perguruan Tinggi atau para ahli yang memang sudah lama menggeluti perbatasan. Berikutnya dengan memperhatikan tulisan-tulisan yang ada pada media masa arus utama-khususnya Kompas-Suara Pembaruan-Jawa Pos-Tempo Dll.

Pertahanan di Perbatasan
Sering pula ditambahkan kutipan-kutipan hasil-hasil reportase wartawan mereka-dengan maksud memperlihatkan pada pembaca Blog terkait isu dan realitas perbatasan secara nyata. Hal itu lebih diperkaya lagi, setelah adanya Pusat Riset Pertahanan Perbatasan Universitas Pertahanan Indonesia, yang sekaligus ikut menjadi peneliti di dalamnya (2010-2012). Sebagai penulis telah diusahakan membuat resep agar isi Blog tersebut layak jadi bahan bacaan yang punya kelas tersendiri, tetapi tetap sederhana. Kata orang Tempo Enak dan Perlu.
Catatan blog dimaksud adalah catatan Blog di yang sinergis dengan blog perbatasan dan pertahanan di perbatasan. Idenya adalah sebuah upaya untuk ikut memberikan sumbangsih pemikiran terkait strategi pembangunan wilayah perbatasan berikut konsep pertahanannya. Pengalaman penulis yang sedikit banyak terlibat dengan perbatasan, meneguhkan penulis untuk membangun blog blog tersebut. Nyatanya sejak tahun 2009 hingga saat ini blog tersebut tidak pernah absen dalam memberikan masukan-masukan, pandangan serta harapan agar pembangunan wilayah perbatasan dan strategi pertahanannya bisa lebih baik dari yang ada.

Additional information

Weight 395 kg

Reviews

There are no reviews yet.

Only logged in customers who have purchased this product may leave a review.